Aug 14 2010
Jika awal bulan lalu saya sempat tidak yakin apakah saya akan bisa mendapatkan tiket untuk pulang ke Jogja, saya rasa saya bisa sedikit lebih tenang sekarang. Ya, saya dapat tiket kereta! Tiket yang saya dapatkan untuk tanggal keberangkatan tanggal 5 September, dari Stasiun Gambir.
Hari Rabu (11 Agustus), saya sempat kebingungan karena menurut berita di televisi, semua tiket sudah hampir habis, apalagi setelah tanggal 6 atau 7 Agustus. Masih dilayar televisi, saya sekilas sempat melihat kalau awal bulan, semua tiket juga sudah hampir terjual habis. Memang ada sih, kereta api Taksaka untuk tanggal 3 atau 4, tapi tinggal beberapa kursi saja. Ah, ini sudah pasti habis keeskokan harinya!
Hari berikutnya, saya coba untuk menelpon call center pemesanan tiket. Dan, tentu saja ini tidak semudah di hari-hari biasa. Beberapa kali saya menghubungi, dan tidak berhasil sama sekali. Sama sekali! Tidak berhasil disini lebih karena semua petugas call center melayani calon penumpang. Malam harinya, saya rencanakan untuk mencoba keberuntungan mencari tiket langsung di stasiun. Sempat juga sih malam harinya saya sampai cari lokasi kantor pos terdekat dari tempat tinggal saya. Sudah ketemu kira-kira tempat dimana, walaupun belum tahu pastinya dimana.
Aug 1 2010
Bulan Agustus (atau mungkin September) tahun ini, sepertinya akan ada mengalami pengalaman kali pertama berburu tiket. Walaupun sebelumnya sudah cukup sering mencari tiket untuk kepulangan dari Jakarta ke Jogjakarta, namun sepertinya ada yang sedikit berbeda. Ya, mungkin saya akan mengalami yang namanya “mudik”.
Memang mungkin bukan dalam arti yang terlalu berlebihan. Hampir setiap satu kali sebulan, berusaha untuk balik ke Jogja. Selama ini bisa dikatakan tanpa perjuangan yang berat. Tapi bagaimana ketika menjelang libur Lebaran? Saya tidak membayangkan. Walaupun memang, pekerjaan di Jakarta tidak terlalu ketat tentang jadwal kerja, tapi tetap saja, sepertinya seru juga ini mudik.
Bulan Juli kemarin, saya mendengar informasi kalau pemesanan tiket kereta api untuk libur Lebaran sudah mulai dibuka. Entah bagaimana kondisi saat ini, apakah masih tersedia atau malah sudah habis sama sekali? Duh!
May 29 2010
Tempat tinggal saya di Jakarta cukup dekat dengan lokasi distributor tabung gas (dan termasuk air mineral galon). Jadi, hampir setiap hari truk melintas di depan gang. Ya, tidak terlalu dekat juga sebenarnya, mungkin sekitar 100 meter. Tapi, tak jarang juga saya melintasi tempat tersebut ketika saya mau makan di warung.
Sore tadi, ketika saya makan, jantung rasanya mau dibuat copot. Sewaktu berjalan menuju warung, saya melintasi sebuah truk yang sedang parkir di dekat tempat distributor gas dan air mineral. Waktu itu, yang parkir adalah truk bermuatan ratusan glon air mineral. Sekilas saya lihat rodanya dan terpikir kalau roda truk itu kuat sekali — melihat bahwa ada ratusan galon air mineral (dalam kondisi terisi) diatasnya.
Sewaktu saya makan, tiba-tiba terdengar suara meledak. Dor! “Ah, moga-moga bukan gas!” Suara ledakan tersebut cukup keras. Penjaga warung dan beberapa orang yang makan disitu juga langsung keluar, melihat apa yang terjadi. Saya juga sempat terpikir kalau ada gas meledak. Ini juga karena di televisi kadang ada berita tentang tas meledak. Untunglah, tidak ada gas yang meledak. Suara keras tadi karena ban truk yang meletus, kelebihan muatan mungkin. Entahlah.
Sewaktu melihat, ternyata sudah banyak juga warga sekitar yang sudah berhamburan ditepi jalan untuk melihat apa yang terjadi. Tak lama kemudian, keadaan kembali seperti semula. Orang-orang yang melihat kembali ke aktivitas mereka masing-masing, termasuk saya. Benar-benar masih teringat suara yang ditimbulkan. Dhuar!
May 2 2010
Pertengahan Januari tahun ini, saya memutuskan untuk menggunakan layanan internet Smart Telecom. Setelah membaca informasi, bertanya dengan beberapa teman, saya putuskan untuk memilih layanan ini — dibanding dengan layanan yang sejenis. Ini juga terkait dengan kepindahan saya ke Jakarta (dari Jogja) untuk beberapa bulan. Saat itu, saya masih menggunakan layanan Speedy untuk keperluan koneksi internet di rumah. Dan, saya cukup puas dengan layananan Telkom Speedy.
Kebutuhan koneksi internet saya mungkin bisa dikatakan rata-rata. Tidak terlalu banyak aktivitas simultan seperti mengunduh berkas yang besar. Yang penting, aktivitas berselancar, memperbarui blog, dan hal-hal lain terkait pekerjaan bisa dilakukan. Saya banyak mendengar kalau kecepatan akses yang didapatkan tidak bisa maksimal seperti yang dijanjikan. Walaupun demikian, kecepatan akses saya rasa masih bisa diterima. Tidak cepat sekali, tidak juga lambat. Lumayan.
Selama menikmati promo gratis berlangganan 100 hari, saya juga tidak terlalu banyak mendapati masalah yang cukup merepotkan. Memang kadang-kadang koneksi tiba-tiba terputus tanpa sebab yang jelas. Tapi, kalau dibandingkan dengan total lama pemakaian, saya merasa hal tersebut bisa saya tolerir. Tentang kecepatan koneksi/sinyal, tetap bahwa lokasi menentukan kecepatan akses.
Di tengah kota Jogja saya tidak terlalu mendapatkan masalah. Di Bantul — karena hampir bisa dikatakan tidak mendapatkan jangkauan sinyal — pengalaman menggunakan Smart Telecom ini bisa dikatakan sangat mengecewakan. Ya, ini karena memang jangkauan saja belum sampai lokasi.
Ketika saya pindah ke Jakarta, salah seorang teman saya juga memutuskan untuk mencoba layanan ini. Keputusan ini juga setelah teman saya tersebut mencoba untuk menggunakan modem Smart milik saya di rumahnya. Masalah yang kadang juga muncul adalah ketika koneksi tiba-tiba terputus, padahal sinyal tertangkap penuh.
Akhir-akhir ini saya mengamati kalau kecepatan mengunggah berkas menjadi sangat sulit. Untuk berkas-berkas kecil sebenarnya tidak terlalu masalah. Saya pernah mengunggah 3 berkas masing-masing sebesar sekitar 100 Kb ke laman Facebook saya, bisa dikatakan kecepatannya sangat mengecewakan. Sering kali gagal. Tapi, masalah seperti ini tidak terjadi ketika saya mengunggah satu persatu. Hal yang sama juga ketika saya mengunggah foto ke Flickr. Kecepatannya terasa lambat sekali, walaupun saya rasa ukuran berkas tidak terlalu besar.
Catatan: Tulisan ini adalah pengalaman pribadi, dan tidak disponsori oleh pihak manapun.
Apr 6 2010
Kemarin, Ivan Lanin melontarkan sebuah pertanyaan melalui akun Twitter miliknya:
Apakah mikroblog dan pemutakhiran status membuat orang jadi lbh malas menulis di blog “tradisional”? [tautan]
Gara-gara pertanyaan tersebut, saya tergoda untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan lebih panjang, melalui sebuah entri di blog ini. Jawaban saya untuk pertanyaan tersebut melalui akun Twitter saya sepertinya terlalu singkat.
Saya tidak akan menjawab mengenai istilah blog “tradisional”, tapi pemahaman saya terhadap kata ‘tradisional’ tersebut adalah blog yang pada umumnya dikenal, sebelum mikroblog berkembang sampai dengan hari ini. Atau mungkin, ketika layanan semacam Twitter, Plurk, Facebook, Foursquare, Koprol, dan lain sebagainya menjadi sangat populer.
Apr 5 2010
Hari ini (5 April 2010), saya melakukan perjalanan menggunakan jasa kereta api. Kalau tidak salah ingat, baru kali pertama saya menggunakan Taksaka pagi dari Jogjakarta menuju Jakarta — dari kebiasaan menggunakan Taksaka Malam. Perjalanan hari ini ditempuh mulai jam 10.00 dan saya turun di Stasiun Jatinegara, kira-kira pukul 17:45. Perjalanan cukup lancar. “Sialnya”, pendingin gerbong saya rasakan dingin sekali. Ini membuat saya menghabiskan cukup banyak waktu di gerbong makan untuk menikmati makanan dan minuman disana. Ya, disamping karena memang alasan lapar sih… :)
Untuk perjalanan ini, memang mundur dari jadwal yang saya rencanakan, karena alasan tiket sudah habis. Tapi, ini mendingan daripada naik pesawat terbang. Sebenarnya, naik pesawat terbang di hari yang sama (untuk waktu agak siang/sore), tidak terpaut jauh. Tapi, kali ini tetap naik kereta api saja.
Oh ya, kalau minggu lalu saya sedikit mengeluhkan tentang layanan call center reservasi tiket, ternyata 1 April kemarin nomor Call Center 121 secara resmi dikukuhkan (tautan terkait). Dan, katanya akan melayani masyarakat yang akan menggunakan jasa kereta api dalam hal informasi jadwal, termasuk tentu saja pemesanan tiket. Layanan 24 jam pula. Kenapa saya bilang katanya, karena saya memang belum pernah menggunakan layanan Call Center ini. Mungkin suatu saat nanti deh.
Tentang call center tersebut, berikut ini kutipan beritanya:
Contact Center 121 dapat dihubungi melalui telepon atau fax dengan mengakses nomor 121 dari telepon rumah (untuk pulau Jawa, Palembang, Padang dan Medan) dan 021-21391121 dari seluruh operator GSM & CDMA. Selain itu info layanan juga dapat diakses melalui situs www.kereta-api.co.id. Khusus untuk Kereta Commuter Jabodetabek konsumen dapat menghubungi Contact Center melalui SMS dengan kode akses 9559. [sumber]
Mar 29 2010
Hari ini, untuk kali pertama saya mencoba untuk melakukan pemesanan tiket kereta api melalui call center ticketing. Sebelumnya memang sudah pernah mendengar layanan semacam ini, tapi baru saat ini saya mencoba. Saya melakukan pemesanan untuk tujuan Jogjakarta dari Jakarta (Gambir). Salah satu alasan mengapa saya menggunakan cara ini adalah karena kebetulan lokasi tempat tinggal yang cukup jauh dari Gambir, dan saya tidak tahu dimana bisa memperoleh tiket melalui agen.
Alasan lain adalah karena harga tiket pesawat terlalu tinggi untuk saya — karena memang jadwal perjalanan saya adalah di liburan akhir pekan. Untuk mencari informasi melalui internet, saya mulai dari mengunjungi situs resmi PT. Kereta Api (Persero), dan langsung melihat ke bagian pemesanan tiket.
Feb 23 2010
Jan 22 2010
Sepertinya ungkapan bahwa “Kesempatan tidak datang dua kali” cukup tepat bagi saya saat ini. Dulu, saya pernah pula mendapatkan sebuah kesempatan untuk terlibat dalam sebuah pekerjaan. Saya ambil kesempatan tersebut tanpa pikir panjang. Karena saya merasa bahwa itu adalah sebuah peluang yang tepat (bagi saya).
Tapi, kadang saya juga sempat berpikir tentang kesempatan/peluang yang saya ambil saat itu. Saya merasa bahwa saya kurang menyelami banyak hal. Bukan tentang diri saya, tetapi kepada lingkungan, sistem dan pola yang ada. Ada perasaan senang, tapi tak jarang pula muncul perasaan sedikit tidak puas — jika tidak boleh untuk bilang kecewa.
Sekarang, saya sedang dihadapkan dengan sebuah kesempatan yang lain. Dibandingkan dengan sebelumnya, mungkin saya lebih mengerti tentang kesempatan yang datang kepada saya saat ini. Mengambil kesempatan tentu saja bukan tanpa resiko, tapi seandainyapun resiko tersebut harus saya ambil, paling tidak saya sudah siap harus berhadapan/berurusan dengan siapa.
Masalahnya, ketika saya sudah bulat akan mengambil kesempatan tersebut dengan berbagai pertimbangan termasuk menyelesaikan hal-hal lainnya, ada sebuah tawaran lainnya yang pada awalnya saya juga punya ketertarikan disana. Saya tidak ingin serakah. Saya belajar bahwa kita harus fokus. Ayah saya dulu pernah bilang bahwa sinar matahari itu sampai ke bumi panasnya mungkin biasa saja, tapi bagaimana jika difokuskan? Sangat panas!
Untuk saat ini, saya akan mengedepankan kenyataan, pengalamanan, logika, perasaan saya saja untuk berhadapan dengan kesempatan-kesempatan didepan saya. I feel that this is the right one.
Selamat datang! Blog ini adalah blog milik Thomas Arie Setiawan, seorang narablog yang saat ini berdomisili di kota Jogjakarta. Selengkapnya »
Beberapa tautan yang terkait dengan saya: