Facebook yang (Kadang) Membingungkan

Saya menggunakan Facebook, walaupun tidak terlalu aktif memanfaatkan fitur-fitur yang ada. Misalnya aplikasi games. Saya lupa kapan atau aplikasi permainan apa yang saya mainkan. Bagi saya, aplikasi games ini tidak terlalu menarik. Mungkin saja menarik sih, tapi saya lebih takut kalau susah berhenti yang mengakitbatkan pekerjaan menjadi terbengkalai — karena keasikan bermain games.

Logo Facebook

Saya hanya menggunakan Facebook untuk hal-halyang sifatnya mendasar saja: membangun jaringan pertemanan dengan teman-teman lama atau yang baru bertemu. Selain itu, terkait dengan blog publishing, saya juga menggunakannya untuk memublikasikan tautan ke artikel atau entri yang saya tuliskan dalam blog milik saya.

Sejak awal, saya memang tidak punya sesuatu yang prinsip tentang istilah “teman” di Facebook. Maksudnya, apakah teman itu berarti “seseorang yang saya kenal”, “seseorang yang pernah ketemu”, atau “seseorang yang ada pernah saya tahu melalui internet”. Seiring berjalannya waktu, kadang hal ini menjadi merepotkan. Saat ini, lebih dari 100 friend requests yang ada dalam akun saya. Biasanya, saya melihat terlebih dahulu satu per satu. Yang paling susah adalah ketika menemukan seseorang ingin “berteman” dengan saya, tapi saya sama sekali tidak mengenalnya. Atau, jika seseorang tersebut sama sekali tidak memiliki hubungan melalui mutual friends.

Kadang mutual friends sendiri juga cukup membingungkan. Misalnya, ketika saya melihat bahwa ada salah satu (atau lebih) mutual friends tersebut adalah teman satu SMA saya. Tapi, saya sendiri tidak kenal sama sekali — karena berbeda angkatan. Contoh lain misalnya beberapa mutual friends-nya adalah para narablog yang saya tahu blog-nya, tapi belum pernah bertatap muka. Bisa jadi saya akan dianggap sombong kali ya… Tapi, sepertinya mendingan seperti ini daripada saya malah repot dikemudian hari.

Yang lebih “ajaib” lagi adalah ketika seseorang menyarankan untuk berteman dengan saya. Sebut saja si Bagong — yang saya tidak kenal tapi ada dalam daftar teman — menyarankan saya untuk berteman dengan si Gogon yang sama sekali juga tidak saya kenal. Wahahaha!

Itu salah satu contoh saja. Mungkin, sekarang saya harus membiasakan diri dengan kebingungan — karena hal tersebut — di ranah jejaring sosial saja.

Menonton dan Memotret Karnaval Festival Upacara Adat di Jogjakarta

Ketika tadi sedang ada dirumah, kira-kira pukul 15.30 sayup terdengar suara alat musik tradisional dimainkan dari pinggir jalan. Ah, tumben ada karnaval lewat. Memang ini sebuah kejadian yang agak jarang karena karnaval atau arak-arakan rata-rata diadakan di sepanjang Jalan Malioboro. Tanpa pikir panjang, langsung lari sambil nyamber kamera. Siapa tahu ada yang bisa dipotret. Jarak antara rumah dengan pinggir jalan tidak jauh, sekitar 30 meter.

Karnaval Festival Upacara Adat

Sesampainya dipinggir jalan, lha kok ternyata sudah banyak warga yang sedang asik menonton. Eyang saya — dan beberapa tetangga sekitar rumah juga sudah duduk mengambil posisi. Waaahhh… Ternyata rombongan yang terdengar tadi sudah lewat depan pintu gang rumah. Karena belum terlalu jauh, sempatkan lari saja mendahului rombongan tersebut. Untung belum jauh. Langsung ambil posisi ditengah jalan, dan mulai jeprat-jepret, tanpa tahu ini sebenarnya karnaval dalam rangka acara apa. Hehehe…

Baca selengkapnya »

Jadwal dan Harga Tiket Kereta Api Pramex

Sudah cukup lama sejak terakhir kali saya menggunakan jasa transportasi kereta api Pramex. Setiap kali akan menggunakan kereta Pramex — baik dari Jogja ke Solo ataupun sebaliknya, pasti cukup kebingungan untuk mencari informasi tentang jadwal keberangkatan. Ya, bisa sih telpon informasi di stasiun. Berharap menemukan informasi — yang bisa dipercaya — melalui situs web sepertinya juga sia-sia. Mungkin ada, tapi tidak begitu yakin 100%.

jadwal_pramexKemarin siang, akhirnya dengan sedikit nekat — sudah dapat informasi sih, tapi belum yakin sepenuhnya — saya coba langsung ke Stasiun Solo Balapan setelah menemani Lala pulang kampung. Sampai di Stasiun Solo Balapan kira-kira pukul 14.20. Lihat jadwal, ternyata ada yang keberangkatan pukul 14.45! Akhirnya tidak harus menunggu lama (atau baru saja ketinggalan kereta). Tanpa pikir panjang langsung ke loket untuk beli tiket. Eh, ternyata harga tiket sudah berubah dari yang semula Rp. 7.000,– sekarang menjadi Rp. 8.000,–. Dan melihat dari pengumuman yang terpasang, perubahan ini sejak bulan Agustus 2009.

Ternyata tidak hanya harga tiket yang berubah. Bentuk tiket juga mengalami perubahan. Mungkin sudah lama sih, beberapa bulan mungkin. Tapi saya benar-benar lupa terakhir kali naik Pramex itu kapan dan bentuk tiketnya seperti apa. Karena bentuknya yang tipis dan seperti lembaran kertas biasa, tadi hampir saja malah sempat terbuang.

Tiket Prambanan Express Tiket Kereta Pramex yang baru.

Perjalanan cukup lancar, tapi terlambat sekitar 10 menit sampai di tujuan. Entah kenapa alasan keterlambatannya apa. Yang pasti, penumpang tidak begitu banyak. Mungkin kalau berangkat lebih sore lagi, bisa beda ceritanya.

Mau Pakai TV Kabel?

Kemarin siang, dapat nomer telpon yang menawarkan tentang layanan TV kabel. Kalau tidak salah tangkap, sepertinya dari yang saya dengar, data nomor telpon dapat dari Speedy deh — ya, saya pelanggan Telkom Speedy. Intinya menawarkan kalau ada paket berlangganan TV kabel, dengan biaya paling murah Rp 125.000,- per bulan. Lupa juga tadi itu untuk berapa kanal.

Sempat tertarik sih, tapi sepertinya jadi males juga. Dengan televisi yang saat ini hanya menangkap siaran televisi lokal Indonesia saja sudah jarang banget nonton TV, apakah kalau nambah kanal siaran malah jadi lebih hobi nonton TV? Waduh, ini yang saya malah ndak mau. Nonton TV terus, malah gak kerja nanti. Repot.

Eh iya, ketika saya tanya apakah (misal saya ikut berlangganan) pembayaran bisa jadi satu dengan Telkom Speedy, ternyata terpisah. Seperti tidak ada hubungan dengan Telkom. Lalu, bagaimana mereka tahu tentang nomor telpon saya? Dari Telkom, atau bukan?

New Opera Logo

Isu Tsunami dan Kepanikan Gempa Jogja 2006

Tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya: Sekelumit Cerita Setelah Gempa Bantul/Jogja tahun 2006.

Entah dari mana isu adanya tsunami berawal. Yang pasti, rumor tentang adanya tsunami ini benar-benar membuat suasana menjadi sangat kacau. Ada sempat keraguan bahwa tsunami benar-benar terjadi. Tapi, keadaan panik mengalahkan akal sehat saya, dan mungkin ratusan (atau bahkan ribuan) orang yang saat itu juga sedang sangat panik. Dari arah selatan, kendaraan melaju kencang. Motor, mobil bahkan truk dengan lampu menyala bergerak cepat ke utara. Saat sampai di perempatan jalan utama, ada dua orang polisi lalu lintas yang sedang mengatur arus kendaraan.

Salah seorang polisi berusaha untuk menenangkan dengan menyebutkan bahwa tidak terjadi tsunami. Petugas yang satunya lari dari tengah jalan, menuju ke pos jaga. Entah ingin memberitahukan tentang kepanikan yang baru terjadi, atau ikut berusaha menyelamatkan diri, entahlah…

2006_tsu_1

Warga dan kendaraan yang semula hanya berdiri dan berhenti di pinggir jalan menjadi ikut panik dan segera melarikan kendaraan masing-masing. Yang kebetulan sedang berjalan, berusaha memberhentikan kendaran lain untuk bisa menumpang. Gambaran keadaan yang terjadi kurang lebih sama seperti yang terlihat di televisi beberapa saat setelah gempa.

Baca selengkapnya »

Sekelumit Cerita Setelah Gempa Bantul/Jogja tahun 2006

Sudah hampir satu minggu, peristiwa gempa di Padang, Sumatera Barat berlalu. Turut berduka cita bagi para korban dan juga keluarga yang mendapatkan musibah. Ketika pertama kali melihat tayangan televisi, dan juga informasi lanjutan tentang gempa tersebut, langsung saya teringat tentang apa yang melanda kota Bantul dan Jogja (dan beberapa wilayah lainnya) pada saat terjadi gempa besar tahun 2006 yang lalu.

Saya tidak akan membandingkan tentang mana yang lebih parah. Satu hal yang pasti, tidak ada yang menginginkan terjadinya bencana tersebut. Walaupun sudah lebih dari tiga tahun setelah gempa tersebut, saya pribadi masih merasakan perasaan trauma, karena keluarga saya juga menjadi salah satu korban. Saya merasa sangat bersyukur (dan beruntung), karena harta yang paling bernilai — nyawa kami sekeluarga — masih kami miliki. Sesaat setelah gempa, ayah saya pernah bilang, “Uwis, rapopo. Sing penting kabeh slamet… (Sudah tidak apa-apa, yang penting semua selamat).

Baca selengkapnya »

Telkom Flexi Putus Sambung

Sudah dua hari terakhir ini, saya mengalami beberapa masalah dengan penggunaan jalur komunikasi dengan Telkom Flexi. Kejadiannya, setiap beberapa menit (kurang dari lima menit), koneksi tiba-tiba terputus. Saya melakukan sambungan telepon ke nomor Flexi yang lain.

Ketika saya menerima telepon — dari nomor Flexi yang lain — hampir selalu terjadi kasus yang sama. Apakah karena pengaruh lokasi? Saya rasa tidak. Lokasi rumah saya bukan di daerah yang (saya yakin) minim jaringan. Berada di tengah kota. Bahkan, beberapa puluh meter dari tempat saya ada STO milik Telkom. Ya, saya tahu, ini mungkin memang tidak berhubungan.

Saya tidak terlalu peduli dengan promo tarif murah yang ditawarkan baik oleh Telkom Flexi atau operator lainnya, karena aktivitas penggunaan telepon saya juga tidak terlalu tinggi. Lha makin murah tarif tapi layanan makin buruk? Memang beginilah seharusnya?

Mbah Surip dan Royalti

mbah_surip

Sewaktu sosok Mbah Surip muncul di media massa terutama ketika menyinggung soal berapa besar penghasilan beliau dari Ring Back Tone (RBT), saya sempat ragu. Angkanya terlalu fantastis. Mulai dari pemberitaan bahwa royalti mencapai 3 milyar, bahkan 4 milyar. Terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Saya memang bisa dikatakan jauh dari dunia hiburan atau bisnis semacam ini. Yang sering terjadi adalah saya hanya sering mendengar bahwa tentang royalti ini sangat jauh dari yang diharapkan oleh para — dalam kasus ini — musisi. Singkatnya, saya kadang mendegar opini bahwa tidak ada kejadian musisi itu kaya dari ring back tone. RBT memang menjadi salah satu pintu untuk mendapatkan tambahan rejeki, karena hasil dari penjualan album kadang juga tidak bisa di prediksi. Yang lain, tentu saja dari hasil manggung.

Baru beberapa hari lalu, keluar kabar sebenarnya tentang royalti yang akan diterima oleh Mbah Surip. Angkanya? Ah, jauh dari kabar yang beredar. Dari Kompas.com:

Dipaparkan Chief Executive Officer Falcon Pictures HB Naveen, jumlah total royalti RBT dan termasuk penjualan CD dan kaset “Tak Gendong” yang akan diterima ahli waris sebesar Rp 112.386.041.

“Untuk RBT, Mbah Surip mendapat tujuh persen dari total pendapatan bersih yang diterima Falcon, sebesar Rp 990 juta,” kata Naveen, dalam perbincangan dengan HU Kompas, Tabloid Nova, dan Kompas.com, di Palmerah Selatan, Jakarta, Selasa (18/8) malam.

Saya tidak tahu secara mendetail atau bagaimana penghitungan royalti dari bisnis semacam ini. Tentang siapa yang diuntungkan atau dirugikan, mungkin pihak-pihak yang dekat dunia ini yang bisa memberikan jawaban yang paling pas. Kalau dari angka, jelas artis yang berada dalam kondisi kurang menguntungkan. Ah…

Masih tentang Keterlambatan Kereta Api Gajayana Jurusan Jakarta

Perjalanan dengan menggunakan kereta api Gajayana yang mengalami keterlambatan lebih dari lima jam dari jadwal yang ditentukan harus saya lalui. Ini bukan sebuah pilihan. Suka atau tidak, mau tidak mau, harus saya terima. Keadaan yang mengharuskan saya ambil kereta malam — pengennya pakai Taksaka Malam. Kedatangan kereta di Stasiun Tugu sudah mengalami keterlambatan sekitar 30 – 60 menit. Ada yang berbeda kali ini. Disamping tempat duduk ada colokan listrik! Dalam perjalanan menggunakan kereta, satu hal yang mengganggu adalah ketika handphone kehabisan baterai. Ya, karena handphone mungkin jadi satu-satunya teman dalam perjalanan. Apalagi kalau perjalanan sendiri dan tidak menemukan teman mengobrol.

Kereta ada colokan listriknya!

Kira-kira pukul 06.00, kereta berhenti. Saya baru saja terbangun dari tidur sebentar. Ah, sudah jam 6, berarti tidak lama lagi sudah memasuki Jakarta. Ternyata perkiraan saya salah. Kereta berhenti tidak tahu dimana. Akhirnya, saya keluar dari kereta — karena banyak penumpang melakukan hal yang sama. Diluar, sempat juga jadinya ngobrol dengan penumpang yang lain. Semua kurang lebih mengeluhkan hal yang sama: jadwal berantakan. Mulai dari yang harus masuk kantor, ketemu orang, menyelesaikan pekerjaan dan lain-lain. Sedangkan saya, sudah pasti jadwal yang sudah saya atur bersama dengan teman saya juga harus berubah.

Baca selengkapnya »

Pengalaman Mencari Tiket Kereta Api

Minggu lalu, saya pergi ke Jakarta untuk sebuah keperluan. Setelah mempertimbangkan jadwal dan agenda (yang kebetulan saat itu sedang cukup sibuk), saya memutuskan untuk menggunakan jasa kereta api. Awalnya, saya berencana menggunakan pesawat terbang, tapi harga tiket saat itu sedang kurang bersahabat. Apalagi, kalau saya harus menggunakan pesawat pagi, sebuah perjuangan tersendiri nantinya.

Untuk mendapatkan tiket kereta api, tidak semudah yang dibayangkan. Ya, seharusnya memang mudah, karena tinggal menuju loket pembelian tiket di Stasiun Tugu Yogyakarta, antri, bayar… selesai. Waktu itu saya menunggu kurang lebih 100 antrian. Cukup panjang dan lama juga, karena loket yang melayani pembelian hanya dua (dari 5 atau 6 yang ada). Setelah tiba giliran saya, pemesanan tiket saya tidak dapat diproses dengan alasan sistem sedang offline. Nah loh! Sudah antri lebih dari satu jam, tidak bisa. Menyebalkan!

Ternyata, sistim (atau sistem?) yang sedang offline hanya jadwal kereta api Gajayana (yang ingin saya gunakan). Saya tanya, kira-kira kapan bisa memroses pesanan tiket, ternyata tidak ada jawaban pasti. Ya, petugas tidak dapat memastikan. Oh ya, ini pengalaman pertama menggunakan kereta api Gajayana, karena biasanya saya gunakan Taksaka Malam. Saya sempat agak panik. Akhirnya, saya putuskan untuk beli saja lewat jasa agen. Kebetulan di loket tersebut ada informasi tentang agen tiket. Saya coba keberuntungan saya untuk menelpon salah satunya. Melalui telepon, saya diberitahu kalau sistim sedang tidak bekerja, alias offline. Ternyata, agen tiket tersebut lokasinya tidak jauh dari rumah. Akhirnya saya pesan ke petugas agen kalau saya mau (dan pasti!) pesan tiketnya dan minta diberitahu kalau sistim sudah beroperasi kembali.

Tidak lama kemudian, saya mendapatkan telepon dari agen tiket tersebut yang memberitahukan bahwa tiket bisa dipesan. Langsung saya minta di-book-kan untuk saya. Singkatnya, saya mendapatkan tiket saya tersebut hari itu juga, dengan tambahan biaya Rp. 10.000,00. Ah, kalau tahu seperti ini, mendingan dari awal saya beli lewat agen! Menurut jadwal, kereta api akan berangkat pukul 23.33 dan sampai di Stasiun Gambir pukul 07.15. Tapi, yang namanya jadwal kan itu rencananya. Kenyataannya, saya baru sampai di Stasiun Gambir sekitar pukul 13.00! Gila!

Pembayaran Tagihan Telkom Speedy Melalui ATM BCA

Dua hari yang lalu saya berencana untuk membayar tunggakan tagihan koneksi internet Telkom Speedy melalui ATM. Memang ini baru kali pertama saya melakukan pembayaran Telkom Speedy, karena memang baru sekitar 1 bulan menggunakannya. Untuk masalah kualitas akses internet, saya belum menemukan kendala yang berarti. Paling tidak, kuota saya sudah hampir habis untuk bulan Juli ini. Oh ya, saya menggunakan Speedy Multi Speed paket Family.

Jadi, waktu itu saya sekaligus membayar tagihan-tagihan lainnya (telepon rumah dan listrik). Ketika saya sudah memasukkan nomor pelanggan Telkom Speedy, saya mendapati jumlah tagihan dan nama pelanggan yang benar. Nah, sewaktu akan melanjutkan ke proses pembayaran, saya mendapatkan respon bahwa transaksi pembayaran tidak dapat diproses. Waduh! Saya coba sekali lagi, tidak berhasil juga. Coba lagi, sekali lagi, tidak berhasil juga.

Akhirnya saya urungkan niatan saya untuk membayar melalui ATM. Siapa tahu lain hari bisa dilakukan.

Hari ini, akhirnya mencoba telepon teman saya yang sama-sama menggunakan layanan Telkom Speedy, dan saya tanyakan tentang proses pembayaran. Saya mendapatkan informasi kalau ternyata memang pembayaran tagihan belum bisa dilakukan melaui ATM. Saya juga tidak tahu, apakah ini hanya terjadi di Jogjakarta, atau juga di daerah/kota lainnya.

Ya… berarti memang besok harus bayar langsung.

Berkas Rekaman Audio Debat Capres dan Cawapres Pemilu 2009

Hari pemilihan presiden dan wakil presiden Pemilu 2009 sudah berlangsung beberapa hari yang lalu. Saya akhirnya memutuskan juga untuk menggunakan hak suara saya. Bagi saya, ini pertama kalinya saya menggunakan hak pilih saya. Yang pemilu legislatif kemarin saya putuskan untuk tidak ikut memilih. Karena tidak tahu siapa yang harus saya pilih.

Nah, kebetulan dalam rangkaian proses Pilpres ada acara debat di televisi. Menarik sih, not bad-lah untuk model seperti ini, apalagi belum pernah diselenggarakan sebelumnya. Saya juga akhirnya merekam acara tersebut, namun hanya dalam format audio. Alasannya ini lebih ekonomis dan lebih mudah dilakukan, dibandingkan dengan merekam audio dan videonya.

Dari total 5 (lima) debat yang dilaksanakan, hanya debat ke-4 saja yang saya lewatkan. Ini juga karena kebetulan saya tidak dirumah. Debat ke-4 tersebut adalah debat cawapres periode kedua. Kalau misal ada yang mau meng-unduh berkas audio-nya, berikut ini adalah daftar berkasnya.

Baca selengkapnya »

Flickr dan Smugmug hasilnya Twitter

Sempat berbincang dengan Mas Ikhlasul Amal tentang Smugmug dan Flickr. Ini lebih menyambung obrolan di hari sebelumnya.

Thomas Arie: saya cobain smugmug, bisa sih pak import kabeh (cuma sekitar 200-an photo sih memang)
Thomas Arie: import gak sampe 5 menit
Thomas Arie: tapi, disain e jan… jauh lebih seneng twitter

Aneh…

Stasiun Lempuyangan

Kurang tahu pasti sejak kapan direnovasi, yang pasti, sekarang sih jauh lebih bersih.

Pertanyaan untuk capres dan cawapres

Setelah melihat dan mendengarkan acara debat pertama para calon presiden untuk pemilu presiden mendatang, saya jadi punya pertanyaan untuk masing-masing capres (dan mungkin cawapres).

Pertanyaannya adalah: “Bagaimana menurut Anda (capres dan cawapres), kelebihan yang dimiliki oleh capres dan cawapres lainnya?”.

Ya, mungkin ini pertanyaan yang sangat kecil kemungkinannya untuk dilontarkan. Tapi, jujur saja saya penasaran dengan jawaban dari masing-masing capres dan cawapres. Yang sering terjadi adalah mencari kelemahan lawan politik. Mencari segala kejelekan, yang semoga dengan ini akan membuat mereka (tampak) lebih baik.

Tapi, dengan berani secara terbuka memberikan pendapat tentang kebaikan pihak lain diluar diri mereka sendiri, toh itu juga akan berpeluang untuk memperlihatkan kelebihan mereka juga.

Eh, nggak juga ya? Tapi, kira-kira kalau pertanyaan semacam ini diajukan, kira-kira jawabannya bagaimana ya?

Boediono Mendengar (di Jogjakarta) Tanpa Boediono

Boediono Mendengar

Minggu kemarin, saya memutuskan untuk datang di acara Boediono Mendengar di Jogjakarta. Saya datang ke acara ini setelah tahu informasi dari blog Ndoro Kakung. Informasi awalnya, acara yang bertajuk Boediono Mendengar – Kopdar Netter, akan berlangsung Joglo Melati, daerah Sleman. Namun, informasi terakhir katanya tempat acara diubah ke Angkringan Yayasan Umar Kayak (YUK). Alasan pemindahan tempat sih tidak begitu tahu pasti, saya cuma dengar dari beberapa obrolan kecil saja…

Saya datang ke lokasi mungkin terlalu awal, tapi paling tidak sesuai dengan informasi agendanya. Persiapan — terutama keamanan — cukup banyak, bahkan ada mobil gegana juga (yang rencananya mau saya ambil gambarnya, tapi malah lupa). Saya tidak tahu apakah ini berlebihan atau tidak, tapi kalau memang standar persiapan untuk event semacam ini, apalagi menyangkut ‘orang penting’, ya tidak apa-apa lah… Toh intinya biar aman terkendali.

Setelah menunggu cukup lama, acaranya akhirnya dimulai. Dan, kabar pertama yang disampaikan adalah bahwa Bapak Boediono tidak jadi datang. Walah… Padahal kehadiran beliau yang menjadi magnet bagi warga yang hadir disana. Untungnya, saya tidak berhasil menghubungi saudara saya yang rumahnya dekat dengan tempat tersebut.

Acara yang mungkin menjadi kesempatan bagi warga untuk bertatap muka dan mengenal Pak Boediono berubah menjadi obrolan seputar blog Pak Boediono. Ya, memang salah satu agendanya adalah tentang soft launching blog beliau. Tapi, karena beliau tidak jadi datang, ya acara diskusi tentang blog tersebut menjadi agenda utama. Hasilnya, mungkin acaranya ini hanya menarik bagi beberapa orang saja.

Alasan ketidakhadiran beliau (menurut saya) bisa diterima. Karena padatnya jadwal beliau di hari tersebut dan ditambah lagi agenda sebelum dan setelah hari berikutnya yang cukup padat, membuat kondisi fisik sepertinya tidak mengijinkan. Alasan lain? Wah saya tidak tahu juga. Acara tidak populer? Mungkin saja. Audiens sedikit? Bisa jadi.

Bahasa dan Rasa

“…bahasa itu cuma masalah rasa. Yang tersirat tidak selalu yang tersurat, tapi carilah yang tersirat itu melalu yang tersurat. Rasakan makna dari email Ibu Prita, saya yakin RSOI bisa merasakannya.”
Ruth Wijaya, tentang Ibu Prita Mulyasari dan RS Omni Internasional.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) adalah hasil hutang, atau bukan?

Mungkin telat juga saya tahu berita ini. Saya tahu hari ini ketika menonton cara Metro TV. Yang dibahas adalah mengenai apakah Bantuan Langsung Tunai (BLT) itu hasil hutang atau bukan. Eh, sepertinya kalau dari acara tadi, statement-nya adalah bahwa BLT hasil hutang. Hal ini diperkuat/didasarkan pada hasil pemeriksaan yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Berita lengkap tentang pernyataan bahwa BLT ini adalah hasil hutang bisa dilihat di situs Media Indonesia.

Saya kaget dan juga bingung.

Yang menjadi menarik, jika ini memang benar, maka akan menjadi kabar buruk bagi banyak pihak. Apalagi BLT ini semakin gencar dijadikan sebuah amunisi dalam kaitannya dengan pesta demokrasi Pemilihan Presiden 2009.

SBY dan Jusuf Kalla sudah pasti akan mendapatkan banyak sorotan. Bisa jadi ini akan semakin meluas dampaknya, terutama kepada pembangunan persepsi dan opini. Sebelum berita ini beredar, BLT sudah menjadi perdebatan antara setuju dan tidak, antara memberikan manfaat atau malah sebaliknya, antara mensejahterakan atau membuat tambah sengsara.

Masih segar dalam ingatan saya, isu ini juga digunakan dalam merebut simpati. Ada pula yang awalnya memiliki cara pandang yang kurang tegas dalam mensikapi BLT tersebut (antara setuju atau menolak).

Baca selengkapnya »

Reparasi Sandal di Pinggir Jalan

Reparasi Sandal Pinggir Jalan

Kemarin akhirnya menyempatkan untuk mereparasi sandal saya yang rusak. Rusaknya karena bagian depan (jepitan untuk jempol kaki) putus. Sebenarnya ingin juga beli sandal baru lagi, tapi sepertinya sayang karena baru dipakai beberapa minggu saja. Dulu, biasanya ada tukang reparasi sandal yang lewat depan rumah, tapi sekarang sepertinya jarang sekali lewat. Bahkan, seperti tidak ada lagi.

Rencananya, mau mereparasi di Malioboro karena sudah jadi langganan. Bukan langganan sih tepatnya, tapi karena beberapa kali kesana. Terakhir kesana juga waktu mereparasi sandal milik Lala. Tapi, kemarin sewaktu mau ke Malioboro, ternyata melihat ada tukang reparasi pinggir jalan juga. Akhirnya, mampir saja kesitu sekalian nyobain. Saya kasihkan sandal saya, bilang bagian mana yang rusak dan beberapa menit kemudian jadi. Saya tidak tanya dulu berapa ongkosnya. Tapi saya yakin, semahal-mahalnya pasti masih sangat masuk akal.

Perlengkapan Reparasi Sepatu

Awalnya cuma ngobrol-ngobrol saja, tapi bapak yang mereparasi sandal tersebut juga bilang kalau dia bikin sandal juga. Dia kasih contohnya. Wah, unik ini, tidak ada yang jual sepertinya. Apalagi itu benar-benar buatan sendiri. Saya minta ijin untuk mencobanya. Saya buat jalan, enak juga. Tidak terlalu ringan, tapi tidak terlalu berat. Cuma sayangnya, bagian jempol masih kurang pas buat saya.

Saya tanya, apakah bagian depan ini bisa dimodifikasi? Bapak tersebut tanya modifikasi seperti apa. Setelah saya jelaskan, dia bilang bisa saja. Ngobrol-ngobrol soal harga dia bilang dengan modifikasi itu harganya adalah Rp. 60.000,00. Saya pikir, ah… kayaknya kok harga lebih tinggi juga pantas. Akhirnya saya “tawar” jadi Rp 70.000,00. Bapak tersebut malah bilang, Rp. 60.000,00 saja. Loh?

Bapak tadi juga cerita bagaimana mengawali membuka usaha reparasi sandal. Mulai dari awalnya melamar kerja di pabrik, sampai akhirnya bikin sendiri saja jasa di pinggir jalan. Cerita tentang pengalaman hidupnya… Menarik.

Setelah saya rasa cukup, akhirnya saya pamit pulang. Dan menanyakan tentang ongkos reparasi sandal saya. “Dua ribu rupiah…”.