Jul 24
Saat ini, semakin banyak informasi yang berkembang di internet. Kalau soal blog, tentu sudah banyak yang tahu. Fenomena lain yang muncul adalah semakin banyaknya pihak-pihak (perorangan, kelompok, maupun organisasi) yang memandaatkan media situs untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Intinya, internet sudah semakin dilirik sebagai media untuk mempublikasikan konten.
Dalam hal ini, diantara publisher terlibat dalam sebuah ‘persaingan’ untuk mendapatkan pembaca/audiens. Kita ambil contoh saja dalam agenda Pemilihan Umum 2009. Banyak partai politik yang berbondong-bondong membangun situs untuk menampilkan profil partai masing-masing.
Salah satu yang ingin dicapai tentu saja mendapatkan pembaca sebanyak mungkin, atau bagaimana supaya konten dapat sampai kepada pembaca. Dengan cara secepat dan seefisien mungkin.
Para bloger mungkin sudah akrab dengan istilah RSS dan bagaimana memanfaatkannya. Namun, saya beberapa kali melihat kalau situs-situs tersebut tidak memanfaatkan RSS dengan maksimal. RSS dibuat supaya memudahkan audiens untuk melacak informasi dengan lebih mudah, dengan kondisi bahwa mereka memiliki waktu yang sangat terbatas untuk melacak informasi satu per satu. Sialnya, banyak RSS yang dengan sengaja diproteksi. Padahal, informasi yang ada memang didisain untuk bisa dibaca oleh publik. Hebatnya lagi, ada yang malah menghilangkan fitur RSS-nya.
Alasannya? Apakah pemilik situs ingin supaya publik datang langsung ke situs untuk melihat ada atau tidaknya berita terbaru? Ah… basi!
Selamat datang! Blog ini adalah blog milik Thomas Arie Setiawan, seorang narablog yang saat ini berdomisili di kota Jogjakarta. Selengkapnya »
Beberapa tautan yang terkait dengan saya:
biarpun situs itu dipasangin RSS, tapi kalo ga ada yang subscribe / ngapain juga nge subscribe RSS situs partai? .. ya sama aja ga ada informasi yang ngalir :)
Hehe… maksud saya lebih kepada bagaimana fitur/informasi itu ada/tersedia atau tidak. Soal apakah ada yang mau memanfaatkan atau tidak, itu perkara lain. Fiturnya ada, tapi tidak bisa (susah) untuk dimanfaatkan… lha buat apa?