Whitespace: Makanan apa itu?

Sering kali saya mendapatkan pertanyaan seputar disain, terutama disain web. Nah, daripada jawaban tersebut saya simpan sendiri, mungkin akan lebih baik kalau saya tuliskan saja disini. Ya, itung-itung berbagi informasi dan moga-moga saya juga bisa mendapatkan pencerahan kalau ternyata pemahaman saya keliru.

Baiklah, untuk yang pertama ini, terkait dengan disain, saya akan tuliskan tentang “whitespace”. Sepintas, istilah ini mungkin akan membingungkan, padahal sebenarnya penerapan konsep ini sudah sering dijumpai, apalagi terkait dengan blog. Untuk memahami tentang whitespace ini, A List Apart sudah pernah membahasnya, jadi silakan dibaca saja langsung. Walah… mumet, Mas! Ya udah, kita bahas dengan cara yang lebih sederhan saja kali ya?

Untuk mudahnya (bukan berarti menyederhanakan masalah, lho…), whitespace ini bisa berarti: ruang kosong — yang sengaja dibuat ada — diantara elemen. Nah, tambah bingung? Kita lihat saja contohnya langsung dari gambar berikut.

whitespace-without

Gambar diatas adalah contoh bagaimana kalau tampilan blog saya dibuat tanpa (sedikit sekali) menggunakan whitespace. Jadi, informasi berupa teks ditampilkan dengan cara yang kurang manis. Lihat saja bagaimana tulisan tampil tanpa jarak yang cukup, mengalir terus tanpa jeda. Gara-gara hal seperti ini, membaca tulisan seperti itu bisa jadi sebuah aktivitas yang membosankan. Tidak jelas terlihat mana paragraf. Jarak antara artikel yang satu dengan yang lain kurang terlihat. Tidak nyaman dibaca ‘kan?

Nah, sekarang bandingkan dengan penyusunan konten dengan menggunakan whitespace seperti gambar dibawah ini.

whitespace-with

Cukup kelihatan bedanya ‘kan? Lebih lega dan nyaman untuk dilihat. Kita tidak dihadapkan pada gerombolan obyek yang berkerumun dengan seenaknya. Ada kesempatan untuk ‘bernapas’ dalam menikmati teks. Jadi mata kita tidak akan bermaraton dalam menikmati konten, tapi ada kesempatan untuk beristirahat.

Sudah mulai ada pencerahan tentang istilah whitespace ini ‘kan? Lalu, ada contoh lain?

Untuk contoh lain, bagaimana kalau kita ambil contoh diluar website. Misalnya, dalam contoh iklan. Wah, sebenarnya Mas Pitra lebih paham tentang hal ini. Jadi, maaf kalau contoh saya kurang bisa memberikan gambaran lebih lengkap tentang topik yang sedang dibahas. Coba kita lihat gambar dibawah ini. Anggap saja gambar dibawah adalah iklan roti, rasanya enak walaupun cuma secuil.

whitespace-compare

Keduanya memiliki konten yang sama dan ingin menyampaikan pesan yang sama. Gambar yang kiri berusaha memanfaatkan ruang kosong dengan menampilkan teks dengan ukuran besar. Hasilnya, teks dan gambar roti justru berusaha bersaing untuk mencuri perhatian.

Sebaliknya, gambar disebelah kanan lebih menonjolkan sebuah obyek saja. Ada lebih banyak ruang kosong. Gambar kedua mungkin akan terlihat lebih manis dan lebih ‘mewah’ dibandingkan dengan gambar pertama. Padahal, elemen dari tiap gambar tersebut sama: teks dan gambar. Namun, bisa terlihat dengan manis bagaimana jika ada ruang kosong yang dibiarkan, tidak dipaksakan untuk memenuhi semua luasan media.

Lalu, apakah teori whitespace ini selalu pas untuk semua kondisi?

Kalau kita sebagai ‘obyek penderita’ yang hanya bisa menikmati apa yang disajikan tanpa bisa memiliki kebebasan dalam menikmati informasi, jelas kitalah yang harus menyesuaikan. Karena, konsep tersebut, walaupun memang lebih ramah terhadap kita sebagai audiens, belum tentu dapat diterapkan dalam segala kondisi. Kita ambil contoh saja yang paling sederhana: koran sebagai media cetak.

Koran lebih cenderung untuk menampilkan informasi secara padat. Padat disini dalam pengertian bahwa jumlah berita bisa panjang, namun luasan cetak sangat terbatas. Sebagai konsekuensi, teks cenderung lebih kecil, jarak antar baris juga sempit. Untungnya, koran menampilkan informasi dalam bentuk berkolom. Jadi, paling tidak tetap ada unsur yang membantu pembaca dalam menikmati informasinya. Eh, tentang hal seperti ini, Mas Pujiono, Ndoro Kakung, Paman Tyo atau Mas Firman mungkin lebih bisa menjelaskan secara gamblang…

Nah, itu sedikit — eh, banyak ya? — tentang whitespace. Lebih spesifik tentang disain web, kita lebih diuntungkan karena kita memiliki keleluasaan dalam pembuatan disain. Siapa yang akan lebih diuntungkan/dibuat nyaman ketika whitespace tersebut digunakan dengan pas? Bagaimana kalau pertanyaan kita balik saja: Apakah saya — dan Anda — merasa nyaman ketika melahap informasi yang dipresentasikan dengan manis?

Oh ya, tulisan diatas saya buat bukan bermaksud menggurui atau sok paling benar… Semua dikembalikan kepada Anda semua untuk mengambil kesimpulan… :)

Berlangganan RSS

Anda bisa mendapatkan informasi tulisan terbaru dalam blog ini dengan berlangganan melalui email. Masukkan alamat email Anda.

  Umpan RSS

9 komentar untuk artikel ini

  1. Deddy says:

    Wah, pake WP ya sekarang? Sip sip… jadi nambah lagi daftar orang yang bisa ditanyai masalah WP :)

    Menurutku, whitespace emang penting tuh. Ngebacanya jadi jauh lebih enak… meski panjang jadi tetep dibaca sampai tuntas tas tas tas…

  2. jalansutera says:

    hmmm… bagus nih infonya. untunglah kita yang ngeblog ini nggak dibatasi jumlah kata/karakter yang bisa kita tulis per entry.

    kalo kerja di koran/majalah, wartawan biasanya diberitahu seberapa besar ruang yang tersedia bagi tulisannya. dari sini dia harus bisa memperkirakan berapa jumlah kata yang harus dibuatnya utk menulis berita. belum lagi ruang untuk foto.

    penggunaan whitespace di blog dengan bijaksana akan membuat blog kita lebih nyaman dibaca, nggak bikin pusying…

  3. poetra says:

    Hmm, dulu aku pernah mendengar konsep ini, tapi dengan nama yang berbeda. Filosofinya hampir mirip kayak zen, membiarkan ada ruang kosong.. cmiiw..

    Seperti ucapanmu bertahun-tahun yang lalu mas, “kalo ndak bisa bikin yang rumit, ya bikin yang simpel aja sekalian..” hehehe.

    Setuju!

  4. geblek says:

    artikel yg sederhana, sesuai selera orang yg gak mudeng blas tentang design, err berharap bisa dilanjut thom, dg ertikel design web lainnya, rekues cara membuat themes wp *serius*

  5. Jauhari says:

    Weik… bener juga ucapan cak poetra… setuju saya…. ;)

  6. daustralala says:

    thanks thomas. dalam surat kabar sebenarnya whitespace juga diterapkan. cuma ya standar desain masing-masing koran, layaknya blog, juga berbeda.

  7. [...] Whitespace juga harus cukup, sehingga readibility content juga lebih nyaman. [...]

  8. [...] bernama “White Space” Sebuah artikel menarik dari Thomas yang berjudul “White Space: Makanan Apa itu?” menginspirasiku untuk merombak theme sebelumnya. Dengan ukuran lebar postingan yang masih [...]

  9. ridhocyber says:

    white space….
    kenyamanan visual begitu penting…

Tinggalkan komentar

Alamat email mohon diisi. Alamat email tidak akan dijual, dipublikasikan atau disalahgunakan dengan alasan apapun oleh pemilik blog ini. Gambar profil dalam kolom komentar menggunakan gambar dari layanan Gravatar. Belum punya Gravatar? Daftar sekarang.